PENANGANAN DAN PENCEGAHAN MASALAH ANAK REMAJA

Oleh Mardiya
A. Pendahuluan
Masa remaja adalah masa transisi dari anak ke dewasa. Dalam perkembangan psikososial, masa remaja dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (1) masa remaja awal/dini (early adolescence) umur 11 – 13 tahun; (2) masa remaja pertengahan (middle adolescence) umur 14 – 16 tahun; dan (3) masa remaja lanjut (late adolescence) umur 17 – 20 tahun. Masing-masing tahapan memiliki ciri tersendiri, tetapi tidak memiliki batas yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan.
Dari seluruh masa tumbuh kembang anak, masa remaja menjadi bagian penting dan tidak dapat dikesampingkan karena turut memberikan andil dalam menentukan masa depan anak menuju dewasa yang memiliki kualitas hidup yang tinggi. Ancaman pada masa remaja ini umumnya selalu datang bertubi-tubi, khususnya di negara yang sedang berkembang. Menurut IG.N. Gde Ranuh, sepanjang abad 20 lingkungan telah banyak merubah perilaku para remaja dan banyak menjurus ke perilaku resiko tinggi (risk-taking behavior) dengan segala konsekuensi akibat dari perilaku tersebut.
Salah satu bentuk perilaku resiko tinggi yang terjadi dan menjadi masalah anak pada masa remaja ini adalah perilaku yang berkaitan dengan perilaku seks para nikah. Nashori (1996) menunjukkan angka statistik tentang tentang deviasi (penyimpangan) perilaku anak remaja yang semakin besar dari tahun ke tahun terkait dengan perilaku seks para nikah. Era tahun 1970, penelitian mengenai perilaku seks para nilkah menunjukkan angka 7 – 9 persen. Dekade tahun 1980, perilaku bebas seks pra nikah meningkat menjadi 12 – 15 persen. Berikutnya tahun 1990 meningkat lagi menjadi 20 persen.
Yang mengejutkan, sebagaimana direlease oleh bkkbn online, sekarang ini tiap hari ada 100 remaja yang melakukan aborsi karena kehamilan di luar nikah. Jika dihitung per tahun, 36 ribu janin dibunuh oleh remaja dari rahimnya. Ini menunjukkan pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini, sangatlah memprihatinkan. Menurut Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater, pengaruh gaya hidup barat sebagai penyebab utama para remaja mengabaikan nilai-nilai moral. Mereka menganggap seks bebas sebagai sesuatu yang wajar. Padahal agama melarang keras seks bebas. Menurut Prof. Dadang, namanya saja perzinahan, mendekatinya saja tidak boleh, apalagi melakukannya. Ini membuktikan, remaja sekarang ini sangat rentan terkena pengaruh dampak buruk informasi seks yang tidak mendidik dan tidak sesuai kaidah agama.
Menurut hasil penelitian Puslit Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan, Depkes RI pada tahun 1990 terhadap siswa siswi di Jakarta dan Yogyakarta menyebutkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan senggama adalah: membaca buku porno dan menonton film biru (54,39% di Jakarta dan 49,2% di Yogyakarta). Motivasi utama melakukan senggama adalah suka sama suka (76% di Jakarta dan 75,6% di Yogyakarta), Kebutuhan biologik 14 – 18% dan merasa kurang taat pada nilai agama antara 20 – 26%.
Permasalahan di atas hanyalah sekedar contoh dari sejumlah masalah yang dihadapi oleh anak remaja kita. Karena bila diteliti lebih jauh, tidak sedikit dari remaja kita yang terlibat perilaku negatif lainnya seperti minum-minuman keras, merokok, mencuri, menipu, berkelahi dan tindak kekerasan lainnya serta penyalahgunaan obat-obatan terlarang/narkoba. Hal yang terakhir, dampaknya sangat berbahaya bagi masa depan bangsa dan remaja itu sendiri. Sementara Soetjiningsih (2004) membagi permasalahan remaja menjadi tujuh kategori, yaitu: (1) terganggunya nutrisi, (2) penggunaan obat terlarang, (3) terganggunya kesehatan jiwa, (4) masalah kesehatan gigi, (5) penyakit yang terkait dengan lingkungan bersih, (6) gangguan kesehatan karena hubungan seks, dan (7) trauma fisik dan psikis karena sebagai korban kekerasan.
Apapun klasifikasi, bentuk dan jenisnya, permasalahan remaja harus ditangani serius serta dicarikan solusi upaya pencegahannya. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari dampak yang semakin meluas yang dapat mengancam ketahanan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara mengingat remaja adalah generasi penerus di masa depan. Untuk itu diperlukan formulasi penanganan dan upaya pencegahan masalah remaja secara tepat dan berkesinambungan, agar persoalannya tidak semakin akut. Di sini keluarga sebagai tempat bernaung dan berlindung bagi seluruh anggota keluarga termasuk anak remaja, memiliki peran dan kedudukan yang strategis dalam ikut serta menangani persoalan yang dihadapi para remaja, paling tidak untuk meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkannya.
B. Keluarga dan Tumbuh Kembang Remaja
Kita telah memahami bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi tumbuh kembang anak remaja, sementara lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Keluarga, terutama orangtua merupakan tokoh yang ditiru oleh anak dan remaja, maka seharusnya orangtua memiliki kepribadian yang baik menyangkut sikap, kebiasaan, perilaku dan tata cara hidupnya.
Hubungan antara orangtua dan anak remajanya adalah hubungan antar manusia yang mengemban tanggung jawab moral terbesar. Salah satu tanggung jawab orangtua, baik terhadap anak maupun masyarakat, adalah menanamkan nilai-nilai yang baik, mengajarkan tanggung jawab, serta meningkatkan akhlak yang baik. Tanggung jawab lainnya adalah menjamin kesejahteraan anak, mencurahkan perhatian pada kata-kata dan perbuatan anak, serta memahami perasaan dan kebutuhan anak.
Penyair Kahlil Gibran berkata bahwa orangtua adalah “busur” yang merupakan sarana meluncurkan anak sebagai “anak panah hidup” ke masa depan. Itu artinya, orangtua harus secara sadar memilih nilai-nilai yang akan ditanamkan pada anak, serta mencari peluang dan kesempatan untuk menekankan dan mencontohkan perilaku yang patut diteladani.
Meskipun kita tidak dapat menjamin anak remaja kita akan tumbuh tepat seperti harapan dan keinginan kita, jika kita membesarkan anak dengan nilai-nilai dan kebiasaan positif, dipastikan ia akan menerapkan nilai-nilai dan kebiasaan positif itu pada masa dewasanya serta memberikan sumbangsih terhadap kebaikan masyarakat. Dalam konteks ini, ahli sosiologi Amitai Etzini berkata bahwa orangtua mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakat sebagaimana terungkap dalam pernyataannya:
“ Mempunyai anak adalah sebuah tindakan moral. Sudah tentu, orangtua berkewajiban terhadap anak. Namun dengan memiliki anak, orangtua mempunyai kewajiban terhadap masyarakat. Kita semua menanggung resiko pengasuhan anak yang buruk… Kenakalan remaja tidak hanya membuat hati orangtua berduka dan pemakai narkoba tidak hanya membuat sedih orangtuanya. Mereka juga merampok orang lanjut usia, toko dsan pompa bensin, dan mengganggu anak-anak yang pulang dari sekolah. Mereka rumbuh menjadi masalah, menguras uang, sumber daya dan kesabaran masyarakat. Sebaliknya, anak-anak yang diasuh dengan baik bukan Cuma menjadi sumber kebahagiaan keluarganya, mereka (ini perlu ditekankan) adalah landasan bagi masyarakat yang sukses dan patut dibanggakan.”
Berbicara tentang keluarga dalam hubungannya dengan tumbuh kembang remaja, masalah pembentukan akhlak dan karakter kepribadian anak menjadi sangat urgen untuk dibahas. Hal ini terkait fungsi keluarga sebagai tempat sosialisasi dan pendidikan anak. Orangtua sebagai pengendali biduk rumah tangga, perlu mengajarkan budi pekerti pada anak remajanya guna menumbuhkan tiga sifat utama:
Pertama, manusia berkarakter mulia yang mempunyai prinsip yang baik. Mereka yakin akan kehormatan, integritas, kewajiban, belas kasih, keadilan dan nilai etika lain. Prinsip-prinsip tersebut kemudian dikenal dengan istilah Enam Pilar Karakter.
Kedua, manusia berkarakter mulia yang mempunyai nurani yang kuat. Kesadaran nurani adalah semacam kompas moral internal yang membantu anak remaja kita membedakan benar dan salah, sekaligus suara hati yang terus mengingatkan mereka tentang kewajiban moral, serta mendesak agar melakukannya. Kesadaran nurani yang kuat akan memperkukuh penilaian moralnya dengan cara membahas perilaku yang baik dengan perasaan yang baik. Misalnya rasa bangga dan percaya diri. Nurani yang kuat juga menghukum perilaku buruk dengan menimbulkan rasa malu dan bersalah.
Ketiga, manusia berkarakter mulia yang mempunyai keberanian moral, kemauan untuk mendengarkan suara hati nurani dan melakukan hal yang benar, kendati harus menanggung resiko yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, karakter yang mulia juga merupakan kekuatan etika atau moral.
Akhlak atau budi pekerti bukanlah bawaan sejak lahir. Budi pekerti terbentuk dari hari-ke hari, melalui nilai-nilai yang kita terapkan dan jalur pilihan yang kita tentukan. Pada prinsipnya, setiap orang mampu menentukan akhlaknya sendiri. Oleh karena itu, anak remaja kita harus secara sadar dirangsang untuk menentukan pilihan memperkuat akhlak mereka, bukan memperlemahnya.
Di sini menjadi semakin jelas keterkaitan antara keluarga dan tumbuh kembang anak remaja. Karena keluarga adalah lembaga yang pertama dan utama dalam melaksanakan proses sosialisasi dan savilisasi pribadi anak. Di tengah keluarga anak belajar mengenal makan, cinta kasih, simpati, loyalitas, ideologi, bimbingan dan pendidikan. Keluarga memberikan pengaruh menentukan pada pembentukan watak dan kepribadian anak, dan menjadi unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Baik dan buruknya struktur keluarga memberikan dampak baik atau buruknya perkembangan jiwa dan pertumbuhan jasmani anak remaja.
DAFTAR PUSTAKA
Kedaulatan Rakyat, “22 % Pelajar di DIY Setuju Hubungan Seks Diluar Nikah”Rubrik Berita 13 April 1994.
Michael S Josephson, Val J. Peter dan Tom Dowd, Menumbuhkan 6 Sikap Remaja Idaman, Kaifa, Bandung, 2003.
Nashori (1986) dalam Satyawati Yun Irianti, “Remaja Menyimpang Butuh Rangsangan Moral” Artikel Kedaulatan Rakyat 4 April 1997.
www.bkkbn.go.id, “Tiap Hari 100 Remaja Lakukan Aborsi” Rubrik Berita, Diakses 13 Desember 2007.
Sri Yuni Murti Widayanti, “Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Kenakalan Anak” Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial, B2P3KS Yogyakarta, 2005.
Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya, Jakarta, Sagung Seto, 2004.

Penulis : Bocah Ndeso ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel PENANGANAN DAN PENCEGAHAN MASALAH ANAK REMAJA ini dipublish oleh Bocah Ndeso pada hari Jumat, 11 Mei 2012. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan PENANGANAN DAN PENCEGAHAN MASALAH ANAK REMAJA
 

0 komentar:

Poskan Komentar